Perjalanan Hari

7 05 2009

Rasanya lamaaaa…. Banget gak pernah curhat tentang bisnis lagi. Mungkin belakangan ini tulisanku diblog lebih banyak tentang motivasi diri dari pada tentang perjalanan wirausaha yang aku tekuni.
Bukan karena gak ada yang menarik n penting untuk didokumentasikan dalam tulisan. Justru sebaliknya, belakangan banyak hal yang sebetulnya bisa dijadikan pembelajaran n diambil hikmahnya.
Buat diriku pribadi tentunya…., mungkin juga buat orang lain yang mempunyai impian yang sama seperti aku.
Sayangnya, gak mudah untuk mediskripsikan dengan kata- kata, tentang semua yang aku alami dan yang aku rasakan dalam hati . mungkin karena keterbatasanku dalam dunia tulisan, aku bukan penulis professional, dan aku juga belum terlatih dan terbiasa menulis. Mungkin juga, karena suasana hati yang masih sedikit mendung.
Kira-kira 3 bulan yang lalu, Hayfa tutup usia….., aku memutuskan untuk menghentikan usaha salonku. Mungkin aku yang kurang mampu untuk mengelolanya dengan baik, walaupun ada sedikit cerita dibalik semua itu, rasanya gak perlu aku jadikan kambing hitam. Biar semua menjadi suplemen bagi pengayaan batin serta pengalaman hidupku.
Secara materi, mungkin hayfa belum memberikan kembali modal yang aku keluarkan, tapi secara non materi, rasanya aku mendapatkan lebih dari yang aku perkirakan.
Pengakuan, penghargaan, nama baik…, pembelajaran untuk bersikap sabar, berpikir positif dan memberikan kepercayaan pada orang lain….,adalah sesuatu yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya, dan begitu banyak yang aku dapatkan semasa hidup hayfa sampai saat ini.
Aku merasa, Allah begitu baik padaku…, Dia tak pernah membiarkan aku larut dalam kesedihan. Saat hatiku membiru mendapingi hayfa yang menghadapi sakratul maut….,Allah menghiburku lewat cempaka, gadis desa yang selama ini aku pandang sebelah mata.
Cempaka adalah copy center n stasionary yang aku milki disini, karena hanya sebuah toko kecil yang letaknya didesa, aku pikir dia sudah tak bisa dikembangkan lagi. Bersyukur aku masih punya alasan lain yang mendorongku tetap berusaha mengembangkan cempaka, seorang teman butuh pekerjaan, bersedia dipekerjakan walau dengan upah sangat minim. Kebetulan ada satu rumah kecil yang bersebelahan dengan toko yang bisa disewa.
Alahamdulillah, apa yang aku tempuh gak sia-sia, mungkin ini cara Dia menghibur dan memberikan upah atas usahaku…, sekarang dengan menempati 2 petak rumah kecil dan memiliki 3 orang karyawan, toko cempaka mengalami peningkatan omset yang cukup lumayan, hampir dua kali lipat dari omset sebelumnya. Walau mungkin ini dipengaruhi oleh musim juga, karena memasuki masa2 ujian, kenaikan kelas dan pendaftaran sekolah adalah masa panen buat cempaka.
Dalam hati kecilku sebetulnya masih terbersit keinginan untuk menghidupkan lagi hayfa disini, mungkin dengan format yang berbeda. Tapi aku butuh waktu…., aku perlu istirahat sejenak , mengumpulkan tenaga dan kekuatan untuk berjalan lagi. Dan yang terpenting lagi, aku butuh waktu untuk mengevaluasi kesalahan2 langkah yang pernah aku lakukan.
Dismping itu, masih ada beberapa hal yang membuat aku ragu untuk mengadirkan hayfa kembali dalam kehidupanku. Mungkin ini akan menjadi kisahku di episode kehidupan ditahun-tahun mendatang…, entahlah…., wallahualam. Yang pasti, semangat ku belum surut, walaupun aku hanya ingin berlari pada standar kecepatanku sendiri…., tak peduli orang lain melesat jauh meninggalkan aku.., atau jauh tertinggal dibelakangku.

Brebes, 06 Mei 2009





Sukses Adalah Kewajiban

13 04 2009

Selama kita hidup teruslah belajar bagaimana cara menjalani hidup……, begitu petuah bijak yang pernah saya dapatkan dari buku kekuatan sikap positif.
Dan saat ini, saya menemukan pembelajaran bagaimana memaknai kesuksesan dalam hidup ini, melalui buku “setengah Isi Setengah Kosong” yang ditulis dengan indah oleh bapak Parlindungan marpaung, seorang yang sangat layak mendapat sebutan “The Inspiring Trainer”.
Lewat buku beliau, saya mendapat sebuah konsep baru mengenai makna sebuah kesuksesan. Selama ini, saya menganggap bahwa sukses adalah saat kita menduduki posisi tertentu atau saat kita mencapai sesuatu yang kita impikan.
Ternyata, sukses adalah sebuah proses, kesuksesan dimulai ketika kita memulai sesuatu dan menjalaninya dengan perbedaan. Sukses dalam bekerja bukan dinilai dari seberapa banyak uang yang kita peroleh, juga bukan dari seberapa tinggi jabatan yang di capai. Lebih dari semua itu, sukses dalam bekerja adalah sukses menjalani apa yang sedang kita kerjakan dalam suka maupun duka. Karena pada hakekatnya, sukses adalah sebuah perjalanan.
Seorang motivator no 1 di Negara kita, bapak Andri Wongso mempunyai motto “sussces is my right” sukses adalah hak saya…., bila kita kaitkan dengan konsep kesuksesan yang saya dapatkan dari buku ini, motto tersebut sangatlah tepat. Sukses memang hak saya, artinya sukses adalah hak setiap orang, apapun dan siapapun mereka.
Suksesnya seorang petugas kebersihan (cleaning service) adalah saat ia mampu mengerjakan tugasnya dengan begitu sempurna, membersihkan dengan penuh ketekunan dan kesungguhan hati, sehingga orang disekitarnya merasa senang karena dapat merasakan lingkungan yang bersih dan nyaman.
Seorang pejabat atau pengusaha yang bergelimang harta dan kekuasaan tidak dapat serta merta diktakan sukses apabila harta yang dimiliki tidak memberikan manfaat bagi orang sekitarnya, apabila jabatan dan kekuasaan yang dimiliki justru lebih banyak menyengsarakan daripada memberikan kebahagiaan pada orang – orang yang menjadi bawahanya.
Dengan demikian, ada satu hal yang menjadi catatan penting dalam konsep ini, bahwa setiap orang memiliki standar kesuksesan masing-masing. Kita tidak boleh menggunakan standar orang lain dalam memaknai kesuksesan hidup yang kita jalani. Itu adalah sebuah kekeliruaan yang fatal yang mungkin menyebabkan rasa pesimis dalam mencapai kesuksesan itu sendiri. Dapat kita bayangkan bila petugas kebersihan diatas menggunakan standar kesuksesan seorang pengusaha atau pejabat, walaupun tak ada yang mustahil didunia ini, namun itu hanya akan melahirkan rasa frustasi dan hilangnya rasa percaya diri dan kebanggaan terhadap profesi yang ditekuninya. Ironisnya, sebagian besar dari kita cenderung menggunakan standar orang lain untuk memaknai kesuksesan dalam kehidupanya.
Ternyata, begitu indah dan dalam makna sebuah kesuksesan…., rasanya sangat bodoh dan merugi bila kita tidak berusaha dan berjuang untuk meraihnya. Karena sukses bukan sekedar hak setiap orang, sukses adalah kewajiban.

Bagi saya pribadi sukses saya sebagai ibu adalah saat buah hati memeluk erat dan mencium sayang seraya berkata dengan penuh kebanggaan …”ini mama aku”.
Sukses saya sebagai pelayan diperusahaan adalah saat mendapatkan ungkapan terimakasih yang tulus dari customer/nasabah dan ungkapan rasa puas dari atasan dan rekan kerja atas pelayanan yang saya berikan. Sukses saya sebagai wirausaha adalah saat mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar dan orang-orang yang andil dalam usaha yang saya tekuni.
Selamat mencapai sukses!

12042009001-001





Melawan Rasa Bosan

21 03 2009
Tak ada pekerjaan yang membosankan, yang ada hanyalah sikap mental yang demikian….. (William Bennet)

Rasa bosan sejatinya adalah satu hal yang sangat manusiawi, setiap bagian dari kita pasti pernah dihinggapi rasa ini. Rasa bosan tidak ubahnya seperti penyakit yang membutuhkan obat penawar, karena jika dibiarkan ia sedikit demi sedikit ia akan menggrogoti nilai-nilai positif yang kita miliki.
Sebagaimana halnya sebuah penyakit, rasa bosan memiliki stadium, mulai dari yang paling rendah sampai ketingkat yang akut dan kronis. Tiap stadium, tentu memiliki penanganan yang berbeda- beda. Dan tentu saja mencegah dan mengobati sedini mungkin suatu penyakit jauh lebih mudah dan murah biayanya ketimbang menangani yang terlanjur kronis.
Saya sungguh merasa beruntung dikharuniai keluarga dan sahabat yang mau membagi setiap pengalaman dan problem – problem yang mereka miliki pada saya. Semua itu memberikan kekayaan batin dan pelajaran hidup bagi diri saya serta melahirkan banyak inspirasi untuk saya bagikan lewat tulisan, seperti halnya rasa bosan yang mereka alami.
Seorang sahabat menyampaikan bahwa ia merasa bosan dengan pekerjaanya saat ini, menurutnya pekerjaannya tidak memiliki job description yang jelas, terlalu banyak waktu luang sehingga waktu terasa berjalan begitu lambat dan membosankan. Sedangkan sahabat saya yang lain mengeluhkan bahwa ia sering merasa bosan dengan pekerjaan yang ia jalani saat ini. Menurutnya, hal yang membuat ia bosan karena tugas-tugasnya yang begitu padat dan menyita waktu, serta pekerjaan yang sudah terpancang dengan job description yang begitu rinci sehingga ia merasa seperti buruh pabrik saja, tak bisa berimprovisasi dan selalu merasa dikejar oleh waktu. Sungguh dua kondisi yang sangat kontras namun kedua sahabat saya merasakan hal yang sama. Bosan!
Didaerah tempat saya tinggal, terkenal sebagai penghasil bawang merah. Karena itu disini banyak para wanita bekerja sebagai buruh petik. Tugas mereka adalah memisahkan umbi bawang dari tangkai/daunya untuk kemudian diserahkan pada pemilik/juragan. Dan mereka mendapatkan upah yang dihitung berdasarkan banyaknya bawang merah yang berhasil mereka petik.
Semua buruh petik melakukan pekerjaan yang sama, tetapi mereka mempunyai pendapat yang berbeda- beda tentang pekerjaanya ini. Sebagian buruh mengatakan pekerjaan ini sangat membosankan, bekerja seharian , duduk memetik bawang merah yang kotor, berbau tak sedap dan menimbulkan rasa perih dimata serta upah yang sangat kecil. Namun sebagian lain ada yang mengatakan pekerjaan ini menyenangkan karena bisa dikerjakan sambil ngobrol dengan sesama buruh, bebas tanpa ada orang yang mengatur, menekan apalagi memarahi karena mereka sendiri yang menentukan seberapa keras mereka bekerja.
Dari dua ilustrasi diatas, jelas dapat kita tangkap bahwa rasa bosan pada hakekatnya bukan terletak pada pekerjaannya, akan tetapi lebih pada bagaimana sikap mental kita terhadap pekerjaan tersebut. Sebuah petuah bijak mengatakan:
” Apabila kamu merasa bosan dengan suatu pekerjaan, maka rubahlah pekerjaan itu, dan bila kamu tak mampu, maka rubahlah pikiranmu, karena sejatinya hanya satu hal yang bisa kita rubah dan kita kendalikan didunia ini, yaitu pikiran kita sendiri”.
Semoga tulisan ini bermanfaat. (Brebes, 16 Maret 2009)

 





Harga Sebuah Mimpi

12 03 2009

Pernah kah anda mengukur atau menghitung berapa cost yang kita keluarkan untuk memiliki sebuah mimpi? Pasti kita punya jawaban yang sama, yaitu zero alias gratis!
Ya, mimpi bukanlah suatu barang yang mahal, setiap orang bisa memilikinya dan tak sepeserpun biaya yang perlu kita keluarkan untuk memiliki sebuah mimpi, jangankan berlibur kepulau bali, tur keliling dunia sekalipun bisa kita lakukan dengan gratis tis, tentu saja dengan catatan, itu hanya sebuah mimpi.
Akantetapi, pasti lain ceritanya bila kita menginginkan mimpi itu menjadi sebuah kenyataan. Sudah barang tentu ada harga yang harus kita bayar, entah itu dengan tenaga, materi, bahkan mungkin nyawa sekalipun.
Dan untuk sebuah mimpi yang sama, bisa memiliki harga yang jauh berbeda. Karena, harga sebuah mimpi ditentukan bukan oleh apa isi mimpi itu, tetapi lebih kepada identitas kita sebagai pemilik mimpi tersebut.
Bandinkan saja dua orang bocah kecil yang sama-sama bermimpi memiliki sebuah sepeda baru, walaupun impian mereka persis sama, namun harga mimpi keduanya sangat jauh berbeda, karena identitas merekapun jauh berbeda. Yang satu berasal dari keluarga berada sedangkan yang satunya seorang bocah jalanan yang tak pernah tau siapa orang tuanya.
Bisa kita tebak, mimpi bocah kedua jauh lebih mahal harganya. Untuk mewujudkan impianya itu, ia harus berusaha keras , mencari nafkah dijalanan, laksana memecah karang dengan tangan telanjang dan terkepal. Sebaliknya, harga mimpi bocah pertama sangat murah. Ia tak perlu bersusah payah untuk mewujudkan mimpinya itu, cukup menyampaikan impianya pada sang papa, dalam tempo yang singkat, mimpinya menjadi sebuah kenyataan, begitu mudahnya , semudah ia membalikan telapak tangan.
Hampir setiap diri memiliki mimpi, demikin halnya saya, impian yang saya miliki mungkin sederhana bagi sebagian orang, tapi bisa juga dianggap berlebihan oleh sebagian yang lain. Saya yang seorang ibu rumah tangga yang juga berprofesi sebagai karyawati mempunyai mimpi an menjadi seorang entrepreneur.
Dan saat impian itu ingin saya wujudkan menjadi sebuah kenyataan, saya sadar bahwa ada harga yang harus saya bayar. Mulai dari yang berbentuk materi, yaitu modal yang harus saya keluarkan untuk merintis sebuah usaha, sampai pikiran, tenaga , dan waktu yang harus saya curahkan untuk menjaga agar usaha saya bisa tetap berjalan.
Dari semua harga yang harus saya bayar, kehilangan waktu bersama suami dan anak-anak tercinta adalah harga termahal . Ini adalah hal terberat yang saya rasakan, namun harga sebuah mimpi tak pernah bisa ditawar. Bayar, atau kita biarkan semua tetap menjadi impian.

Purwokerto, 8 Maret 2009

27032009002-001





Menjadi Ahli Syukur

27 02 2009

Tulisan ini lahir dari renungan panjang penulis yang sebagai manusia pada umumnya, pastilah memiliki sifat2 tercela seperti serakah, iri hati dan kufur nikmat.
Terkadang, sifat2 itu hinggap dalam diri kita, tanpa kita sadari keberadaanya, sehingga sifat2 tercela tumbuh semakin subur dan memudarkan kebaikan yang kita miliki.
Namun, sejatinya manusia diberikan Allah SWT kemampuan untuk menangkap sinyal-sinyal bahwa sesuatu yang buruk telah masuk kedalam hatinya. Sehingga kita diharapkan dapat segera membersihkannya agar sifat tercela itu tidak semakin berkembang dan tumbuh subur laksana sel-sel kanker ganas yang menggrogoti tubuh yang sakit.
Demikian pula dengan apa yang penulis rasakan belakangan ini. Setiap kali mendengar, membaca atau melihat orang-orang yang sukses dibidangnya seperti membaca kisah sukses seorang pengusaha, penulis, pejabat pemerintahan dsb, yang ada dihati ini bukan hanya sekedar decak kagum, terutama bila melihat mereka yang bisa meraih sukses dalam usia muda dan memiliki latar belakang kehidupan yang tak jauh berbeda dengan penulis.
Lebih dari itu, ada perasaan iri menghinggap dalam hati ini. Kalimat pertama yang muncul dikepala adalah “ Andai aku seperti mereka..” disusul dengan “ Aku ingin seperti mereka…”
Dua kalimat diatas bukanlah hal yang buruk, karena itu berarti penulis termotivasi untuk maju dan meraih kesuksesan yang sama. Sayangnya, kalimat tidak berhenti sampai disitu, muncul kalimat ke3 “Aku harus seperti mereka…”
Dan saat semua kalimat yang kita tanamkan belum juga dapat kita raih, yang timbul akhirnya perasaan sedih, merasa bersalah , dan merasa menjadi orang yang gagal.
Perasaan –parasaan itu berpotensi besar menguburkan semua kenikmatan yang Allah SWT berikan pada penulis.
Merasa bersedih , padahal banyak orang menganggap kita dalam posisi yang sangat pantas untuk tertawa riang.
Merasa gagal, sementara banyak orang mengatakan kita adalah orang yang sukses.
Merasa buruk (feel bad) dan bersalah karena mengganggap diri kurang kerja keras sehingga sukses yang diimpikan tidak juga teraih, sementara banyak orang menilai kita orang yang rajin dan punya motivasi tinggi untuk meraih sukses.
Apa gerangan penyebab semua ini….?
Penyebabnya tak lain adalah:
1. Terlalu seringnya kita melihat ke atas, sehingga kita merasa sposisi kita selalu dibawah.
Hal tersebut mengakibatkan kemampuan untuk merasakan kenikmatan yang Allah SWT berikan semakin menurun, ujung- ujungnya kita menjadi kufur nikmat.
2. Panjang angan-angan.
Banyak petuah bijak n motivator ulung yang menyatakan bahwa untuk menjadi sukses, kita harus mempunyai mimpi, mimpi adalah kunci untu menaklukan dunia…, itu benar adanya. Tapi tentu saja yang mereka maksud bukan sembarang mimpi. Tapi mimpi yang dibarengi dengan iktiar yang kuat.
3. Kurang mawas diri
Selain itu, bila kita miliki mimpi , selain dibarengi dengan ikhtiar, juga harus di backup dengan sikap mawas diri, yaitu kesadaran yang kuat bahwa kita adalah manusia yang punya kehendak, namun kita dimiliki oleh sang Khalik yang maha berkehendak. Dia jualah yang menentukan jalan untuk hidup kita.
Dengan demikian bila kita telah berupaya semaksimal mungkin meraih mimpi, namun belum juga berhasil, kita tidak serta-merta menyalakan diri sendiri karena akan berujung pada hilangnya rasa percaya diri.

Penulis yakin, banyak diantara kita pernah merasakan hal serupa, entah disadari atau tidak. Karenanya, alih-alih kita berusaha keras untuk menjadi sukses dan ahli dibidang tertentu, sebaiknya kita belajar dulu untuk menjadi ahli syukur.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca.

Kharunia Mu

Kharunia Mu