Tulisan ini lahir dari renungan panjang penulis yang sebagai manusia pada umumnya, pastilah memiliki sifat2 tercela seperti serakah, iri hati dan kufur nikmat.
Terkadang, sifat2 itu hinggap dalam diri kita, tanpa kita sadari keberadaanya, sehingga sifat2 tercela tumbuh semakin subur dan memudarkan kebaikan yang kita miliki.
Namun, sejatinya manusia diberikan Allah SWT kemampuan untuk menangkap sinyal-sinyal bahwa sesuatu yang buruk telah masuk kedalam hatinya. Sehingga kita diharapkan dapat segera membersihkannya agar sifat tercela itu tidak semakin berkembang dan tumbuh subur laksana sel-sel kanker ganas yang menggrogoti tubuh yang sakit.
Demikian pula dengan apa yang penulis rasakan belakangan ini. Setiap kali mendengar, membaca atau melihat orang-orang yang sukses dibidangnya seperti membaca kisah sukses seorang pengusaha, penulis, pejabat pemerintahan dsb, yang ada dihati ini bukan hanya sekedar decak kagum, terutama bila melihat mereka yang bisa meraih sukses dalam usia muda dan memiliki latar belakang kehidupan yang tak jauh berbeda dengan penulis.
Lebih dari itu, ada perasaan iri menghinggap dalam hati ini. Kalimat pertama yang muncul dikepala adalah “ Andai aku seperti mereka..” disusul dengan “ Aku ingin seperti mereka…”
Dua kalimat diatas bukanlah hal yang buruk, karena itu berarti penulis termotivasi untuk maju dan meraih kesuksesan yang sama. Sayangnya, kalimat tidak berhenti sampai disitu, muncul kalimat ke3 “Aku harus seperti mereka…”
Dan saat semua kalimat yang kita tanamkan belum juga dapat kita raih, yang timbul akhirnya perasaan sedih, merasa bersalah , dan merasa menjadi orang yang gagal.
Perasaan –parasaan itu berpotensi besar menguburkan semua kenikmatan yang Allah SWT berikan pada penulis.
Merasa bersedih , padahal banyak orang menganggap kita dalam posisi yang sangat pantas untuk tertawa riang.
Merasa gagal, sementara banyak orang mengatakan kita adalah orang yang sukses.
Merasa buruk (feel bad) dan bersalah karena mengganggap diri kurang kerja keras sehingga sukses yang diimpikan tidak juga teraih, sementara banyak orang menilai kita orang yang rajin dan punya motivasi tinggi untuk meraih sukses.
Apa gerangan penyebab semua ini….?
Penyebabnya tak lain adalah:
1. Terlalu seringnya kita melihat ke atas, sehingga kita merasa sposisi kita selalu dibawah.
Hal tersebut mengakibatkan kemampuan untuk merasakan kenikmatan yang Allah SWT berikan semakin menurun, ujung- ujungnya kita menjadi kufur nikmat.
2. Panjang angan-angan.
Banyak petuah bijak n motivator ulung yang menyatakan bahwa untuk menjadi sukses, kita harus mempunyai mimpi, mimpi adalah kunci untu menaklukan dunia…, itu benar adanya. Tapi tentu saja yang mereka maksud bukan sembarang mimpi. Tapi mimpi yang dibarengi dengan iktiar yang kuat.
3. Kurang mawas diri
Selain itu, bila kita miliki mimpi , selain dibarengi dengan ikhtiar, juga harus di backup dengan sikap mawas diri, yaitu kesadaran yang kuat bahwa kita adalah manusia yang punya kehendak, namun kita dimiliki oleh sang Khalik yang maha berkehendak. Dia jualah yang menentukan jalan untuk hidup kita.
Dengan demikian bila kita telah berupaya semaksimal mungkin meraih mimpi, namun belum juga berhasil, kita tidak serta-merta menyalakan diri sendiri karena akan berujung pada hilangnya rasa percaya diri.
Penulis yakin, banyak diantara kita pernah merasakan hal serupa, entah disadari atau tidak. Karenanya, alih-alih kita berusaha keras untuk menjadi sukses dan ahli dibidang tertentu, sebaiknya kita belajar dulu untuk menjadi ahli syukur.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca.

Kharunia Mu
Yang Mampir